Cerita Inspirasi Muslim

Menanam Hikmah Dalam Diri Setiap Muslim

Belajar dari Murid

Ismail bin Al-Husain Al-Ghanawi, pakar nasob (silsilah keturunan), menuturkan bahwa gurunya, Fahrudin Ar-Razi, pergi ke Maru. la adalah ulama berkepribadian karismatik dan penuh wibawa sehingga di hadapannya tidak ada seorang pun yang berani berkata keras.

Suatu saat Ismail bin Al-Husain Al-Ghanawi ragu-ragu dan tidak lancar membaca di hadapannya. Kemudian sang guru memberi tugas kepadanya, "Aku ingin engkau menulis untukku satu kitab tentang silsilah para pelajar untuk aku periksa dan aku lafalkan!"

Ketika kitab itu selesai disusun, Ismail menyerahkan tugas tersebut kepada gurunya. Setelah menerima kitab tersebut, gurunya turun dari bangku dan duduk di atas tikar bersamanya. Namun, sang guru memerintahkan Ismail untuk duduk di atas bangkunya. Tentu saja hal ini membuat Ismail salah tingkah.

Sejak kapan seorang guru duduk di atas tikar, sementara muridnya "ongkang-ongkang" di atas kursi di hadapan gurunya? Dengan halus, ia menolak perintah gurunya karena segan. Akan tetapi, gurunya membentak dia dengan keras, "Duduk!"

Ismail bin Al-Husain Al-Ghanawi segera melakukan perintah gurunya karena takut dengan gertakan keras tersebut. la duduk di atas bangku gurunya, sementara gurunya membaca kitab yang ia susun sembari bertanya sekali-sekali kepadanya dari atas tikar.

Usai membaca satu bab, Ar-Razi berkata kepada muridnya, "Sekarang duduklah di manapun kausuka. Ini adalah suatu ilmu dan engkau adalah guruku. Aku mengambil manfaat dan belajar darimu. Oleh karena itu, sudah menjadi adab sopan santun jika murid (dalam hal ini Ar-Razi) duduk lebih rendah daripada gurunya (dalam hal ini Ismail)."

Followers

Blog Archive