Ibnu Mas'ud r.a. berkata, "Rasulullah pernah berkata kepada saya, 'Bacalah Al-Qur'an di hadapanku!'
Aku jawab, 'Wahai Rasulullah, bagaimana aku membacakan Al-Qur'an di hadapanmu, padahal Al-Qur'an diturunkan kepadamu?'
Beliau berkata, 'Aku ingin mendengar bacaan Al-Qur'an dari orang lain.'
Lalu, aku pun membacakan di hadapan beliau Surat An-Nisa' dari awal surat sampai ayat yang berbunyi, 'Dan bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti) jika Kami mendatangkan seorang saksi (Rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka.' (QS An-Nisa' [4]: 41)
'Cukup!' kata beliau sambil meneteskan air mata." (HR Bukhari)
Imam Nawawi r.a. berkata, "Selayaknya seseorang senantiasa bersungguh-sungguh dalam menyibukkan diri dengan ilmu, baik dengan cara membaca, dibacakan, maupun membacakan kepada orang lain, menelaah, memberikan catatan-catatan, membahas, mudzakarah (mempelajari dan mengulang pelajaran), dan menulisnya. Dan janganlah dia merasa sombong sehingga tidak mau belajar kepada orang yang di bawahnya dari sisi umur, nasab, atau kemasyhuran. Bahkan, hendaknya dia bersemangat untuk mendapatkan faedah dari orang yang memilikinya."
Tampilkan postingan dengan label Kiat agar pintar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiat agar pintar. Tampilkan semua postingan
Abu Hurairah r.a adalah sahabat Rasulullah saw. yang mendampingi beliau selama empat tahun. Dalam waktu yang sangat singkat tersebut, Abu Hurairah r.a banyak menyerap Ilmu dan menghafal hadis-hadis dari Rasulullah saw.
Abu Hurairah r.a sendiri pernah berkata, "Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadis begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw.
Aku termasuk golongan Ashhabus Suffah dan aku tidak begitu menghiraukan pencarian nafkah karena aku selalu merasa puas dengan sedikit makanan yang diberikan Rasulullah saw kepadaku.
Aku pernah memberitahukan kepada Rasulullah tentang hafalanku yang lemah, lalu beliau bersabda, 'Hamparkan kain selimutmu!'
Aku pun melakukan perintahnya, beliau membuat tanda-tanda di kain selimut itu, kemudian bersabda, 'Sekarang balutkanlah kain selimut ini di sekeliling dadamu.' Aku pun membalut dadaku dengan kain itu. Sejak saat itu aku tidak pernah lupa lagi dengan segala sesuatu yang ingin aku hafalkan." (HR. Abu Daud)
Abu Hurairah r.a sendiri pernah berkata, "Orang-orang banyak yang heran, bagaimana aku dapat meriwayatkan hadis begitu banyak. Sebenarnya ketika saudara-saudaraku dari kaum Muhajirin banyak yang berdagang dan saudara-saudara dari kaum Anshar sibuk berladang, aku selalu di samping Rasulullah saw.
Aku termasuk golongan Ashhabus Suffah dan aku tidak begitu menghiraukan pencarian nafkah karena aku selalu merasa puas dengan sedikit makanan yang diberikan Rasulullah saw kepadaku.
Aku pernah memberitahukan kepada Rasulullah tentang hafalanku yang lemah, lalu beliau bersabda, 'Hamparkan kain selimutmu!'
Aku pun melakukan perintahnya, beliau membuat tanda-tanda di kain selimut itu, kemudian bersabda, 'Sekarang balutkanlah kain selimut ini di sekeliling dadamu.' Aku pun membalut dadaku dengan kain itu. Sejak saat itu aku tidak pernah lupa lagi dengan segala sesuatu yang ingin aku hafalkan." (HR. Abu Daud)
Nama sebenarnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim Mughirah bin Bardzibah. la biasa dipanggil Abu Abdullah. Nama Bukhari berasal dari nama negaranya, yaitu Bukhara. la dilahirkan pada tahun 194 H di Bukhara, Khurasan.
Ketika ia ditinggal wafat oleh ayahnya, ia diwarisi banyak harta untuk mencari ilmu. Pada waktu kecil ia adalah seorang tunanetra. Namun, sang ibu terus-menerus berdoa kepada Allah SWT agar penglihatan putranya dipulihkan.
Permintaan sang ibu dikabulkan. Suatu malam sang ibu bermimpi bertemu Nabi Ibrahim a.s. yang memberi kabar kepadanya bahwa Allah SWT akan mengembalikan penglihatan putranya karena ketulusan doanya.
Pagi harinya sebuah keajaiban benar-benar terjadi. Atas izin Allah SWT, penglihatan putranya menjadi normal sehingga ia bisa melihat dunia yang penuh warna.
Ketika ia ditinggal wafat oleh ayahnya, ia diwarisi banyak harta untuk mencari ilmu. Pada waktu kecil ia adalah seorang tunanetra. Namun, sang ibu terus-menerus berdoa kepada Allah SWT agar penglihatan putranya dipulihkan.
Permintaan sang ibu dikabulkan. Suatu malam sang ibu bermimpi bertemu Nabi Ibrahim a.s. yang memberi kabar kepadanya bahwa Allah SWT akan mengembalikan penglihatan putranya karena ketulusan doanya.
Pagi harinya sebuah keajaiban benar-benar terjadi. Atas izin Allah SWT, penglihatan putranya menjadi normal sehingga ia bisa melihat dunia yang penuh warna.
Ibnu Abbas r.a. terkenal akan semangat dan perjuangannya dalam menuntut ilmu. la begitu rindu dan haus akan ilmu sehingga membuka cakrawala pemahamannya untuk menyimpan ilmu Allah SWT yang tanpa batas dan membawanya menjadi ahli tafsir terbaik.
Semangat mencari ilmu ia tularkan. Kemudian ilmu yang diperoleh ia ajarkan kepada semua orang termasuk kepada hamba sahayanya, Ikrimah r.a. Tak heran Ikrimah r.a menjadi ulama besar pada zamannya karena mendapat ajaran langsung dari majikannya yang sangat cerdas.
Metode pengajaran dari majikannya pun sangat unik. Ikrimah r.a. mengisahkan metode Ibnu Abbas r.a. ketika mengajarnya, "Ketika tuan saya, yaitu Ibnu Abbas, mengajari saya Al-Qur'an, hadis, dan syariat agama, beliau akan mengikat kaki saya agar saya tidak pergi ke mana-mana dan sepenuhnya mendengarkan pelajaran yang disampaikannya. Beliau jugalah yang mengajarkan Al-Qur'an dan hadis-hadis kepada saya." (HR Bukhari dan Ibnu Sa'ad)
Semangat mencari ilmu ia tularkan. Kemudian ilmu yang diperoleh ia ajarkan kepada semua orang termasuk kepada hamba sahayanya, Ikrimah r.a. Tak heran Ikrimah r.a menjadi ulama besar pada zamannya karena mendapat ajaran langsung dari majikannya yang sangat cerdas.
Metode pengajaran dari majikannya pun sangat unik. Ikrimah r.a. mengisahkan metode Ibnu Abbas r.a. ketika mengajarnya, "Ketika tuan saya, yaitu Ibnu Abbas, mengajari saya Al-Qur'an, hadis, dan syariat agama, beliau akan mengikat kaki saya agar saya tidak pergi ke mana-mana dan sepenuhnya mendengarkan pelajaran yang disampaikannya. Beliau jugalah yang mengajarkan Al-Qur'an dan hadis-hadis kepada saya." (HR Bukhari dan Ibnu Sa'ad)
Seorang anak laki-laki duduk di hadapan Rasulullah saw. mendengarkan untaian ilmu penuh hikmah dengan keseriusan. Dengan mudahnya ia mencerna kata demi kata yang mengalir dari bibir Rasulullah saw. dan menyerapnya. Rasa keingintahuan yang tinggi membuatnya betah berada di sisi beliau untuk belajar tanpa mengenal waktu dan lelah.
Anak lelaki itu adalah Ibnu Abbas r.a. Ketinggian ilmunya didengar oleh para sahabat sepeninggal Rasulullah saw. Padahal, saat itu lbnu Abbas r.a. baru berusia 13 tahun. Umar bin Khaththab r.a. pun sering meminta pendapatnya ketika menghadapi masalah yang pelik.
Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya, "Bagaimana engkau mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"
"Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir," jawabnya.
Dari hal itulah Ibnu Abbas r.a. menjadi tempat bertanya karena kegemarannya bertanya. la pun menjadi tempat mencari ilmu karena kegemarannya mencari ilmu.
Anak lelaki itu adalah Ibnu Abbas r.a. Ketinggian ilmunya didengar oleh para sahabat sepeninggal Rasulullah saw. Padahal, saat itu lbnu Abbas r.a. baru berusia 13 tahun. Umar bin Khaththab r.a. pun sering meminta pendapatnya ketika menghadapi masalah yang pelik.
Ketika seorang sahabat bertanya kepadanya, "Bagaimana engkau mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"
"Dengan lidah yang gemar bertanya dan akal yang suka berpikir," jawabnya.
Dari hal itulah Ibnu Abbas r.a. menjadi tempat bertanya karena kegemarannya bertanya. la pun menjadi tempat mencari ilmu karena kegemarannya mencari ilmu.
la dilahirkan di Gaza, Palestina, pada tahun 150 H. la diberi nama Muhammad bin Idris bin 'Abbas bin 'Utsman bin Syafi'i Al-Quraisy bin Abdul Muthalib bin Abdul Manaf. Sejak ia masih di dalam kandungan, ayahnya yang bernama Idris telah meninggal dunia.
Imam Syafi'i berkisah, "Setelah aku hafal Al-Qur'an, aku masuk ke Masjidil Haram untuk berguru kepada para ulama. Dari merekalah aku menimba ilmu, menghafal hadis, dan berbagai masalah ilmiah lainnya.
Rumahku berada di lereng bukit Khaif. Aku sering melihat potongan tulang yang putih berkilauan, kemudian tulang itu kupungut dan kujadikan sarana menulis hadis atau masalah ilmiah lainnya.
Dahulu kami memiliki sebuah guci tua untuk menyimpan potongan-potongan tulang itu. Tiap kali tulang yang kubawa telah penuh berisi tulisan, aku menyimpannya dalam guci itu."
Imam Syafi'i berkisah, "Setelah aku hafal Al-Qur'an, aku masuk ke Masjidil Haram untuk berguru kepada para ulama. Dari merekalah aku menimba ilmu, menghafal hadis, dan berbagai masalah ilmiah lainnya.
Rumahku berada di lereng bukit Khaif. Aku sering melihat potongan tulang yang putih berkilauan, kemudian tulang itu kupungut dan kujadikan sarana menulis hadis atau masalah ilmiah lainnya.
Dahulu kami memiliki sebuah guci tua untuk menyimpan potongan-potongan tulang itu. Tiap kali tulang yang kubawa telah penuh berisi tulisan, aku menyimpannya dalam guci itu."
Ketika Imam Bukhari r.a. mengunjungi Bagdad, para ahli hadis di kota tersebut mendengar kedatangannya. Mereka hendak mengujinya dengan berbagai cara termasuk mencampuradukkan isi hadis untuk membingungkannya.
Mereka juga mengacak-acak hadis dengan menukar-nukar perawinya. Tugas ini diserahkan kepada sepuluh orang yang masing-masing mengeluarkan sepuluh hadis palsu.
Ketika Imam Bukhari menggelar majelis ilmu, mereka ikut bergabung di dalam majelis tersebut guna menanyakan kebenaran hadis-hadis yang telah direkayasa tersebut. Tidak lupa mereka juga mengundang ahli hadis dari luar Bagdad untuk meramaikan perdebatan yang akan terjadi.
Satu per satu dari mereka mengemukakan hadis palsunya kepada Al-Bukhari dan beliau selalu menjawabnya dengan dua kata, "Tidak tahu," .... "tidak tahu,"..... dan "tidak tahu."
Mereka juga mengacak-acak hadis dengan menukar-nukar perawinya. Tugas ini diserahkan kepada sepuluh orang yang masing-masing mengeluarkan sepuluh hadis palsu.
Ketika Imam Bukhari menggelar majelis ilmu, mereka ikut bergabung di dalam majelis tersebut guna menanyakan kebenaran hadis-hadis yang telah direkayasa tersebut. Tidak lupa mereka juga mengundang ahli hadis dari luar Bagdad untuk meramaikan perdebatan yang akan terjadi.
Satu per satu dari mereka mengemukakan hadis palsunya kepada Al-Bukhari dan beliau selalu menjawabnya dengan dua kata, "Tidak tahu," .... "tidak tahu,"..... dan "tidak tahu."
Ismail bin Al-Husain Al-Ghanawi, pakar nasob (silsilah keturunan), menuturkan bahwa gurunya, Fahrudin Ar-Razi, pergi ke Maru. la adalah ulama berkepribadian karismatik dan penuh wibawa sehingga di hadapannya tidak ada seorang pun yang berani berkata keras.
Suatu saat Ismail bin Al-Husain Al-Ghanawi ragu-ragu dan tidak lancar membaca di hadapannya. Kemudian sang guru memberi tugas kepadanya, "Aku ingin engkau menulis untukku satu kitab tentang silsilah para pelajar untuk aku periksa dan aku lafalkan!"
Ketika kitab itu selesai disusun, Ismail menyerahkan tugas tersebut kepada gurunya. Setelah menerima kitab tersebut, gurunya turun dari bangku dan duduk di atas tikar bersamanya. Namun, sang guru memerintahkan Ismail untuk duduk di atas bangkunya. Tentu saja hal ini membuat Ismail salah tingkah.
Suatu saat Ismail bin Al-Husain Al-Ghanawi ragu-ragu dan tidak lancar membaca di hadapannya. Kemudian sang guru memberi tugas kepadanya, "Aku ingin engkau menulis untukku satu kitab tentang silsilah para pelajar untuk aku periksa dan aku lafalkan!"
Ketika kitab itu selesai disusun, Ismail menyerahkan tugas tersebut kepada gurunya. Setelah menerima kitab tersebut, gurunya turun dari bangku dan duduk di atas tikar bersamanya. Namun, sang guru memerintahkan Ismail untuk duduk di atas bangkunya. Tentu saja hal ini membuat Ismail salah tingkah.
Langganan:
Postingan (Atom)