Cerita Inspirasi Muslim

Menanam Hikmah Dalam Diri Setiap Muslim

Pengorbanan Seorang Nabiyullah

Nabi Ibrahim a.s adalah seorang utusan Allah SWT yang taat dan hanif. Berkali-kali ia diuji oleh Allah SWT dengan cobaan yang tiada seorang pun sanggup melaluinya. Namun, ia membuktikan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT di atas segalanya hingga dia berhasil menjalani ujian demi ujian dengan gemilang.

Ujian berat pertama yang harus dilalui Ibrahim a.s adalah ketika anak yang sudah lama ia dambakan harus berpisah dengannya. Bayi mungil itu bernama Ismail. Ia lahir dari istri Ibrahim a.s yang bernama Siti Hajar r.a.

Belum lama Ibrahim a.s menikmati status barunya sebagai ayah, ia menerima perintah dari Allah SWT untuk membawa putranya yang masih merah bersama Siti Hajar ke sebuah tempat yang sama sekali belum diketahuinya.

Padahal, saat itu ia sedang merasakan masa-masa bahagia menimang Ismail mungil. Akan tetapi, tidak ada pilihan lain bagi Ibrahim a.s selain menaati perintah-Nya. Diajaklah Siti Hajar r.a dan Ismail dalam buaiannya menuju tempat yang diperintahkan. Sebuah awan besar mengiringi perjalalanan mereka.

Awan besar itu berhenti di sebuah tempat yang gersang dan tandus. Hanya sebatang pohon besar yang menaungi mereka. Di sanalah Nabi Ibrahim harus meninggalkan istri dan anak tercintanya. Bayangkan bagaimana perasaan seorang ayah ketika harus meninggalkan keluarganya di tempat yang tak berpenghuni seperti itu.

Ibrahim a.s. meminta agar sang istri bersama Ismail mungil tetap di tempat itu dan tidak mengikuti kepergiannya. Ibrahim a.s. membekali mereka dengan segantang kurma dan sekantung wadah berisi air. Ketika Ibrahim a.s beranjak hendak meninggalkan mereka berdua, Hajar r.a menarik pakaian suaminya agar tidak pergi seraya berkata, "Suamiku, ke mana kau hendak pergi? Apakah kau hendak meninggalkan kami di tempat yang tidak ada sesuatu pun di sini?"

Ibrahim a.s diam membisu dan melepas pegangan sang istri sambil berlalu. Ia terus melangkah meninggalkan sang istri dan putra yang sangat dicintainya.

Siti Hajar r.a kembali memanggil dan bertanya, "Ayahanda Ismail, apakah kau hendak meninggalkan kami di tempat yang tidak ada sesuatu pun di sini?"

Panggilan kedua sang istri tercinta tetap tidak menyurutkan langkah Ibrahim a.s. Padahal, maksud Hajar memanggil dengan perkataan 'Ayahanda Ismail' adalah untuk mengingatkan bahwa yang akan Ibrahim a.s tinggalkan adalah anak semata wayangnya, Ismail, yang masih merah dan lemah dan sangat dinantikan kelahirannya. Namun, sang ayah tetap tidak bergeming.

Ketiga kalinya sang istri memanggil dengan agak keras, "Ibrahim! Apakah kau tega meninggalkan kami di tempat yang tidak ada sesuatu pun di sini?"
Kesabaran Hajar r.a mungkin sudah sampai pada puncaknya ketika melihat sikap suaminya yang terus membisu dan tidak memedulikan mereka berdua hingga ia memanggil sang suami dengan menyebut namanya.

Ia betul-betul mengharap suatu jawaban mengapa suami yang sangat pengasih terhadap keluarganya kini tega meninggalkan ia dan putranya yang tak berdaya di sebuah daerah tak berpenghuni. Namun, apa yang diharapkan tidak terjadi, jangankan Ibrahim a.s berhenti, menoleh pun tidak.

Melihat sang suami tidak menggubris panggilannya, Siti Hajar r.a langsung memahami bahwa suaminya tidak akan mungkin berbuat demikian kecuali atas perintah Allah SWT.

Siti Hajar r.a kembali melunakkan suaranya dan memanggil, " Nabiyullah, apakah ini perintah Allah?"

Pertanyaan tersebut membuat Ibrahim a.s berhenti sejenak, kemudian mengangguk tanda mengiyakan dugaan istrinya. Mengetahui hal itu, Siti Hajar r.a langsung berseru, "Suamiku, jika ini perintah Allah maka pergilah! Kami tidak akan tersia-siakan selagi Allah bersama kami!"

Ibrahim a.s pun kembali melanjutkan perjalanannya dengan perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Sebagai seseorang yang lembut dan pengasih, pasti tidak mudah meninggalkan dua manusia lemah yang masih membutuhkan perlindungan dan kasih sayangnya di sebuah padang yang gersang.

Jika bukan karena keimanan yang kuat kepada Allah SWT dalam melaksanakan amanah yang diturunkan kepadanya, ia tidak akan sanggup melakukannya.

Lalu, Ibrahim a.s. mengangkat kedua tangannya seraya berdoa kepada Allah SWT untuk keselamatan istri dan anaknya tercinta, sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur'an, "Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka metoksanakan shalat maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur." (QS. Ibrahim [14]: 37)

Dua hari berlalu dan perbekalan habis, begitu juga air susu sang bunda telah mengering untuk sang bayi. la sendiri merasa kehausan di tengah padang tandus yang terik. Bayi Ismail berteriak menangis keras agar sang bunda mau melepas dahaganya. Namun, apa daya karena air susu telah kering dan sang bunda pun didera rasa haus yang sangat.

Siti Hajar melihat Bukit Shafa tinggi menjulang. Mungkin dari sana, barangkali ada mata air yang bisa diambil untuk melepas dahaga atau seseorang yang dapat dimintai pertolongan.

Akhirnya, Hajar r.a membaringkan Ismail yang terus menangis untuk mencari setetes air. Ia kuatkan hatinya dan berlari kecil menaiki Bukit Shafa. Di puncak Bukit Shafa, terik matahari makin garang menerpa wajah lelahnya. Ia lindungi matanya dengan tangan agar tidak silau dan lebih jelas melihat sekelilingnya.

Namun, sejauh mata memandang, ia tidak melihat sumber air, kafilah, atau apa pun yang dapat membantunya. Yang ia lihat hanya sang jabang bayi yang terus menangis dari kejauhan. Ia segera menuruni Bukit Shafa.

Namun, di lembah antara dua bukit tersebut, Hajar r.a tidak bisa memantau putranya. Kemudian ia segera naik ke atas Bukit Marwah yang bersebelahan dengan Bukit Shafa. Selanjutnya, ia kembali mengamati sekitarnya. Tidak ada apa-apa yang terlihat kecuali hanya bayi mungil dan semilir angin yang membawa debu kering menyapu padang tandus yang sepi dan gersang.

Khawatir dengan sang jabang bayi, Hajar r.a turun dari Bukit Marwah untuk menengok keadaan buah hatinya. Ismail masih menangis. Dengan terus berharap, sang bunda kembali naik ke Bukit Shafa. Sama seperti semula, tidak ada hal baru yang dapat menolongnya.

Ia kembali menuruni Bukit Shafa dan kembali naik ke Bukit Marwah. Dari atas sana, hanya kesunyian yang membentang di hadapannya. Namun, ia tetap yakin akan pertolongan Allah, lalu ia melakukan hal yang serupa, yaitu menaiki dan menuruni Bukit Shafa dan Marwah.

Setelah tujuh kali Hajar r.a berlari menaiki dan menuruni kedua bukit tersebut, ia kembali menengok Ismail yang makin melemah. Kemudian ia terduduk lelah di sisi sang buah hati. Sungguh tak tega mendengar suara tangisan bayinya yang makin lemas dan serak menahan haus. Saat itulah rahmat Allah SWT tercurah kepada mereka. Sebuah mata air menyembur deras tepat di tempat Ismail menghentakkan kakinya.

Rasa syukur dan bahagia yang luar biasa membuncah ketika melihat percikan air di bawah kaki putra tercintanya. Kemudian ia segera menciduk air tersebut dengan tangannya dan meneteskan ke dalam mulut Ismail. la juga meraup air penuh berkah tersebut untuk diminumnya.

Subhanallah, sungguh kenikmatan yang luar biasa. Dahaga dan lelah musnah sudah ketika air bening yang segar mengalir melalui kerongkongannya yang telah lama kering.

Ujian dari Allah SWT berakhir indah. Sumber air tersebut menjadi tempat persinggahan kafilah-kafilah yang sedang melakukan perjalanan. Lama-kelamaan terbentuklah perkampungan di sekitar mata air tersebut. Sumber air itu terkenal dengan nama 'zamzam' hingga kini.

Followers

Blog Archive