Cerita Inspirasi Muslim

Menanam Hikmah Dalam Diri Setiap Muslim

Tampilkan postingan dengan label Jujur dalam perniagaan dan pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jujur dalam perniagaan dan pekerjaan. Tampilkan semua postingan

Dipercaya Menjadi Pemimpin Kafilah Dagang

Khadijah adalah seorang saudagar wanita yang kaya-raya di kota Mekah. Dia hendak mengirim kafilah dagangnya ke negeri Syam sehingga dia membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya untuk membimbing dan mengawasi rombongan dagang tersebut.

Tersiarlah kabar bahwa di Mekah ada seorang pemuda yang terkenal akan kejujurannya. Keluhuran budi pekerti dan kepribadiannya terpelihara dengan baik, padahal kebanyakan pemuda saat itu senang berfoya-foya.

Namun, pemuda yang satu ini sama sekali tidak terpengaruh oleh kebiasaan jahiliah masyarakat kotanya karena perlindungan Allah SWT. Siapakah dia? Dialah Muhammad bin Abdillah keturunan Bani Hasyim yang terpandang.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kabar tentang kejujuran Muhammad sampai ke telinga Khadijah. Ia tahu Muhammad selalu menemani pamannya berdagang ke Syam.

Baca selengkapnya »

Kisah Abdullah bin Rawahah

Abdullah bin Rawahah memiliki nama lengkap Abdullah bin Rawahah bin Tsa'labah Al-Anshari Al-Khazraji. Ia termasuk orang Anshar yang mengikrarkan keislamannya pada Baiatul Aqobah kedua. Semasa hidupnya, ia menerima tanggung jawab dari Rasulullah saw untuk menghitung hasil pertanian kaum Yahudi di Khaibar.

Suatu hari ketika ia hendak melaksanakan tugasnya, orang-orang Yahudi mengumpulkan perhiasan istri-istrinya agar pemeriksaan yang dilakukan oleh Abdullah bin Rawahah tidak menghambat perdagangan mereka.

Apalagi pertikaian antara umat Yahudi dan umat Islam kerap terjadi. Mereka khawatir dendam tersebut masih ada sehingga Abdullah bin Rawahah tidak bersikap adil kepada mereka.

Diberikanlah seluruh perhiasan tersebut kepada Abdullah bin Rawahah seraya berkata, "Semua ini kami serahkan untukmu dan berikanlah kami keringanan dan permudahlah dalam menaksir!"

Baca selengkapnya »

Kisah Watshilah bin Asqa'

Hiruk-pikuk pedagang dan pembeli mewarnai pasar ternak kala itu. Watshilah bin Asqa' salah seorang sahabat Rasulullah - melihat dua orang yang saling menawar harga seekor unta. Harga pun disepakati. Sang pembeli membayar 300 dirham untuk unta yang ia beli.

Ketika sang pembeli menggiring untanya, Watshilah melihat ada yang tidak beres dengan kaki unta tersebut. Ia bergegas memanggil si pembeli seraya bertanya, "Apakah kau membeli unta itu untuk disembelih atau untuk dijadikan kendaraan?"

Si pembeli menjawab, "Unta ini untuk kendaraan."

Watshilah memberitahukan kondisi kaki unta yang cacat kepada si pembeli dengan berkata, "Lihatlah, di kakinya terdapat lubang karena cacat!"

Menyadari hal itu, si pembeli kembali menemui si penjual untuk menggugatnya. Akhirnya, si penjual mengembalikan 100 dirham sebagai kesepakatan harga unta yang baru.

Baca selengkapnya »

Kisah Penjual Susu

Di malam yang pekat dan angin dingin semilir menusuk, Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab sedang menelusuri kota Medinah melalui lorong demi lorong. Di saat seluruh penduduk kota terlelap, sang khalifah tetap terjaga mendatangi satu demi satu rumah untuk mengetahui kondisi rakyatnya.

Ia sadar bahwa kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, ia tidak ingin ada seorang pun dari rakyatnya yang terzalimi.

Malam makin larut hingga tibalah fajar menyingsing. Ketika hendak beranjak ke masjid, langkahnya tertahan di depan sebuah gubuk reot. Dari dalam gubuk itu terdengar percakapan lirih antara seorang ibu dan putrinya. Dari percakapan itu ternyata mereka adalah penjual susu kambing yang akan menjual hasil perahannya di pasar pagi itu.

"Nak, campurlah susu itu dengan air," pinta sang ibu kepada putrinya. Sang ibu berharap agar ia memperoleh keuntungan lebih banyak dari hasil penjualan susu oplosannya (campuran).

Baca selengkapnya »

Kisah Penjaga Kebun Buah-buahan

Alkisah ada seorang penjaga kebun buah-buahan bernama Mubarok. Dia adalah orang jujur dan amanah. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di kebun tersebut.

Suatu hari majikannya, sang pemiliki kebun, datang mengunjungi kebunnya. Ia sedang mengalami masalah yang pelik dan sulit untuk dicarikan jalan keluarnya. Putrinya yang sudah beranjak dewasa tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dan banyak pria yang ingin mempersuntingnya.

Yang menjadi permasalahan baginya adalah semua laki-laki yang ingin mempersunting putrinya adalah kerabat dan teman dekatnya. Ia harus memilih salah satu dari mereka, tetapi ia khawatir jika menyinggung bagi kerabat yang tidak terpilih.

Sambil beristirahat dan menenangkan pikiran, ia mencoba mencicipi hasil kebunnya. Dipanggillah Mubarok, penjaga kebun itu.

"Hai Mubarok, kemarilah! Tolong ambilkan saya buah yang manis!" perintahnya.

Baca selengkapnya »

Kisah Penggembala Domba

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a mendengar ada seorang penggembala cilik yang jujur. Beliau pun tertarik untuk membuktikan kejujuran anak itu.

Suatu hari Amirul Mukminin menjumpainya ketika penggembala tersebut sedang menggiring domba-dombanya. Umar segera menegurnya, "Hai anak kecil! Kamu menggembalakan dombamu dengan sangat baik. Aku ingin membeli sebagian dari domba-dombamu yang sehat ini dengan harga dua kali lipat!"

Sang anak tidak mengetahui bahwa yang menegurnya itu adalah Amirul Mukminin karena pakaiannya sangat sederhana dan merakyat. Ia menjawab, "Maaf, Tuan, domba-domba ini bukan milikku! Aku tidak bisa menjualnya!"

Ternyata anak itu tidak tergiur dengan tingginya harga yang Umar tawarkan. Umar kembali membujuk, "Ia tidak akan tahu jika beberapa dombanya aku beli karena domba-domba peliharaannya begitu banyak!"

Baca selengkapnya »

Kisah Saudagar Perhiasan

Seorang tabiin bernama Yunus bin Ubaid adalah pedagang yang jujur. Ketika hendak menunaikan shalat berjamaah di masjid, ia menitipkan tokonya kepada saudaranya. Kemudian datanglah seorang Badui hendak membeli perhiasan di toko tersebut.

Ia mencari sebuah permata seharga 400 dirham. Saudara Yunus menunjukkan batu permata yang harganya hanya 200 dirham. Orang Badui tersebut langsung membelinya dengan harga 400 dirham tanpa menawar lagi.

Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Yunus bin Ubaid. Yunus mengetahui bahwa orang Badui tersebut baru mampir ke tokonya. Ia kemudian bertanya barang apa yang sudah ia beli dari tokonya. Orang Badui itu mengatakan bahwa ia telah membeli permata seharga 400 dirham sambil menunjukkan permata seharga 200 dirham tadi.

Mengetahui hal itu, Yunus berkata, "Maaf, harga sebenarnya cuma 200 dirham. Mari ke toko saya supaya saya dapat mengembalikan uang selebihnya kepada Anda."

Baca selengkapnya »

Kisah Pencuri Saleh

Seorang pemuda lugu menuntut ilmu kepada seorang guru fara'idh (ilmu hitung harta waris). Kehidupan ekonomi sang guru sangat pas-pasan. Dalam suatu kesempatan, sang guru berkata kepada murid-muridnya, "Kalian tidak boleh menjadi beban orang lain. Sesungguhnya orang alim yang menengadahkan tangannya kepada orang-orang yang berharta tidak ada kebaikan pada dirinya. Pergilah kalian semua dan bekerjalah seperti pekerjaan ayah kalian masing-masing. Bawalah selalu kejujuran dan ketakwaan kepada Allah dalam menjalankan pekerjaan tersebut!"

Pemuda itu tidak tahu tentang pekerjaan ayahnya yang telah meninggal. Ia pun segera pulang ke rumah untuk menanyakan hal tersebut kepada sang ibu.

Setibanya di rumah, pemuda itu menemui ibunya, lalu berkata, "Bu, tolong beri tahu kepadaku apa pekerjaan sepeninggal ayah dahulu?"

Sang ibu heran dengan pertanyaan anaknya yang tiba-tiba itu. Ia pun balik bertanya, "Apa urusanmu hingga ingin mengetahui pekerjaan ayahmu?" Ungkapan sang ibu itu menunjukkan bahwa ia enggan menjawab pertanyaan anaknya.

Baca selengkapnya »

Kejujuran Seorang Khalifah

Kota Andalusia, Spanyol, dikuasai oleh seorang khalifah yang jujur dan adil bernama Al-Manshur bin Abi Amir Al-Hajib. Dia memiliki rencana besar untuk membangun sebuah jembatan sebagai penghubung dua kota yang dipisahkan sebuah sungai.

Proyek itu dianggarkan empat puluh ribu dinar emas. Meskipun menelan biaya besar, khalifah melihat sisi manfaatnya yang lebih besar bagi kelancaran transportasi dan kegiatan perekonomian masyarakatnya.

Diharapkan proyek itu dapat terealisasi. Oleh karena itu, penguasa harus membeli sepetak tanah milik orang tua yang miskin karena pada tanah itulah akan dibangun fondasi untuk jembatan tersebut. Khalifah menyuruh petugas proyek untuk membeli tanah tersebut dengan harga 100 dinar.

Petugas proyek pun melaksanakan perintah tersebut. Ia menemui si pemilik tanah dan bertanya kepadanya, "Berapa akan kaujual tanahmu ini?"

Orang tua miskin itu menjawab, "Lima dinar!"

Baca selengkapnya »

Menawar agar Lebih Mahal

Ahmad bin Hanbal meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah sedang duduk di masjid bersama para sahabatnya. Beliau bersabda, "Sebentar lagi seorang lelaki dengan wajah bercahaya akan datang. Dia adalah salah seorang dari orang-orang terbaik dari Yaman, dan ada tanda malaikat di dahinya."

Tak lama kemudian, orang tersebut datang kepada Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Ia adalah Jarir bin Abdullah Al-Bajali. (HR Muslim)

Tanda-tanda kemuliaan sahabat nabi, Jarir bin Abdullah Al-Bajali, telah diberitakan oleh Allah SWT ketika ia hendak menyatakan keislamannya. Ia adalah sosok sahabat yang menjunjung tinggi kejujuran dan selalu menepati janji.

Pernah suatu hari ia menyuruh budaknya untuk mencarikannya kuda terbaik. Akhirnya, budak itu menemukan kuda yang diinginkan majikannya. Ia pun bertanya kepada si penjual, "Berapa harga kuda ini?"

"Empat ratus dirham," jawab pedagang itu.

Baca selengkapnya »

Maha Melihat

Konon, semasa muda, Hasan Al-Basri adalah pemuda yang tampan dan kaya. Sayangnya ia suka menghambur-hamburkan waktunya untuk berfoya-foya. Suatu hari ia melihat kain sutra hijau yang sangat indah. Ia pun tertarik untuk membelinya sebagai hadiah bagi seorang gadis idamannya.

Kemudian dihampirinya pelayan toko kain tersebut dan bertanya, "Saya ingin membeli kain sutra hijau itu. Berapa harganya?"

Tak disangka, pelayan tersebut menjawab, "Saya tidak berani menjualnya!"

Tentu saja jawaban pelayan itu membuat Hasan Al-Basri keheranan, lalu ia berkata, "Jika kau tak ingin menjualnya, lantas untuk apa kaupajang kain itu?"

"Saya bukan pemilik toko ini. Saya hanya seorang pelayan yang dipercaya majikan untuk menjaga dagangannya," jelas pelayan tersebut.

Sambil bersungut, Hasan Al-Basri bertanya kembali, "Kapan majikanmu datang?"

Baca selengkapnya »

Barang Cacat yang Terjual

Syaqiq Al-Bakhli bercerita bahwa suatu ketika seorang pedagang jujur bernama Bisyr berdagang ke negeri Mesir dengan membawa 80 potong kain sutra. Barang dagangannya itu adalah titipan Abu Hanifah.

Sebelum keberangkatannya, Abu Hanifah memberi tahu bahwa ada satu potong kain yang cacat. Ia pun menunjukkan kain cacat itu dan berpesan agar hal ini diberitahukan kepada calon pembeli.

Bisyr pun beraksi menjualkan barang dagangannya. Begitu asyiknya melayani pembeli yang sangat banyak untuk membeli dagangannya, ia lupa memberitahukan cacat sepotong kain pada pembeli yang menawarnya. Akhirnya, seluruh barang terjual habis termasuk sepotong kain yang cacat tersebut.

Akhirnya, dia pulang dan memberikan semua hasil dagangan tersebut. Abu Hanifah pun menerimanya dengan sangat senang karena keuntungan yang didapatkan sangat besar di hari itu. Tidak lupa pula ia menanyakan perihal kain yang cacat kepada sahabatnya.

Baca selengkapnya »
loading...